Saturday, March 7, 2015

PERAN PEMUDA DALAM TOLERANSI ANTAR IMAN

Toleransi Antar Iman di Indonesia
“Tidak penting apapun agama dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”. Kutipan dari Gus Dur ini yang menjadi salah satu inspirasi terbesar saya dan kawan-kawan Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi (FOPULIS) untuk menyebarkan toleransi melalui dialog antar umat beriman. Berbicara kepercayaan di Indonesia, berarti kita berbicara lebih luas dari 6 agama besar di Indonesia. Indonesia memiliki beberapa    agama  dan puluhan mungkin ratusan kepercayaan lainnya.  Hanya saja yang dilayani oleh pemerintah hanya 6 agama besar, dan akhirnya masyarakat pada umumnya hanya mengetahui 6 agama itu  saja. Inilah awal dari ketidakpahaman sebagian  besar masyarakat Indonesia akan keberagaman iman  menurut saya.  Dari satu sisi, perbedaan-perbedaan  iman  yang ada dilihat dan dinilai sebagai kekayaan bangsa, dimana para penganut agama/iman  yang berbeda bisa saling menghargai atau menghormati, saling belajar, saling memperkaya dan memperkuat nilai-nilai keagamaan dan keimanan masing-masing. Keberagaman yang ada  tidak perlu dipertentangkan, tetapi harus dilihat dari sudut pandang positif dan dijadikan sebagai kekayaan dari bangsa Indonesia. Kaum beriman dan penganut agama yang berbeda-beda semestinya bisa hidup bersama dengan rukun dan damai, saling menghargai,saling membantu dan saling mengasihi.  Namun dalam sejarah kehidupan umat beragama, sering terjadi bahwa perbedaan agama dan iman dijadikan sebagai pemicu atau alasan pertentangan dan perpecahan. Dibanyak tempat di Indonesia telah terjadi konflik yang menelan banyak korban jiwa  dan harta benda, serta menghancurkan sendi-sendi kehidupan diberbagai  bidang. Hal tersebut terjadi karena berbagai hal, salah satunya adalah unsur-unsur keagamaan dijadikan sebagai pemicu dan sasaran penghancuran dalam konflik tersebut. Bahkan ada orang-orang tertentu yang menganggap dan menjadikan agama sebagai dasar atau  alasan untuk tidak boleh hidup bersama atau harus hidup terpisah, tidak boleh berdamai atau rukun dengan orang yang berbeda agama. Bahkan ada anjuran untuk memusuhi dan membinasakan orang-orang yang beragama lain. Kenyataan bahwa unsur-unsur keagamaan dijadikan sebagai pemicu konflik, baik pada tingkat lokal, nasional maupun internasional akhir-akhir  ini. Kejadian ini tentu sangat memprihatinkan dan mencemaskan banyak orang, terutama bagi kita bangsa Indonesia umumnya memiliki berbagai jenis suku, agama dan adat istiadat. Persaudaraan, kekeluargaan, kerukunan, perdamaian dan ketenteraman akan terancam, terganggu jika hal  ini tidak dapat diatasi. Banyak orang cemas akan ancaman terhadap kesatuan dan persatuan bangsa, atau akan terjadinya disintegrasi bangsa, yang dipicu dengan isu agama. Maka kita sebagai pemuda perlu memberi perhatian khusus pada permasalahan yang ada, mendalami serta mengupayakan langkah-langkah  penyelesaian maupun antisipasi. Perlu diupayakan peningkatan akan pemahaman,  implementasi dan pelestarian akan wawasan kebangsaan kita seperti tersurat dan tersirat dalam falsafah bangsa Indonesia yaitu “Bhineka Tunggal Ika”. 

Pemuda dan Peranannya
Jika mengacu pada ketentuan PBB, jumlah pemuda Indonesia sesuai hasil Sensus Penduduk 2010 mencapai 40,8 juta orang atau 17 persen dari jumlah penduduk Indonesia saat itu yang mencapai 237,6 juta jiwa. Maka,  peranan pemuda sangat penting pada saat ini ataupun dimasa yang akan datang. Sehingga, jika pemuda sejak dini sudah mengerti apa yang dibutuhkan oleh bangsanya maka akan berdampak baik untuk kedepannya. Indonesia adalah bangsa yang memiliki berbagai jenis agama, suku dan ras. Maka pemuda Indonesia harus mengerti dan memahami apa itu keberagaman dan bagaimana cara hidup di dalamnya. Salah satunya mengerti dan mengimplementasikan toleransi akan keberagaman tersebut.  Tetapi,  pada kenyataanya masih banyak pemuda Indonesia yang belum  memahami dan mengimplementasikan  toleransi  tersebut.  Seringakali pemuda A membandingkan agamannya dengan agama B atau ingin mengetahui agama A tetapi bertanya kepada pemuka agama B sehingga  terjadi kekeliruan.  Karena setiap agama memiliki  kebenaran masing-masing dan agama bukan untuk diperbandingkan. Pemuda yang mengerti akan toleransi antar umat beriman yang akan menjadi kuncinya.  Maka, dibutuhkan kegiatan yang bertujuan untuk membuka wawasan pemuda yang ada di Indonesia. Salah satu kegiatan yang telah kita lakukan adalah  mengadakan kegiatan nasional yang bertemakan semangat toleransi yaitu, Interfaith Youth Forum  pada bulan September  2012 di kota Palembang.  Kegiatan ini dihadiri oleh 40 pemuda dari berbagai agama serta  berasal dari berbagai universitas di Indonesia.  Road Show CINTA Indonesia (Committee for Interfaith Tolerance) di 5 kota Indonesia (Malang, Palembang, Manado, Lombok dan Jakarta) sejak Januari – Februari 2013 dan baru saja terlaksana di Ambon pada September 2013 ini serta di Yogyakarta pada bulan Oktober 2013 nanti. Kegiatan ini sangat membuka wawasan tentang pentingnya toleransi antar umat beragama.  Kegiatan ini merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membangun semangat para pemuda Indonesia untuk hidup saling berdampingan dan saling menghargai walaupun berasal dari berbagai agama serta menjelaskan bagaimana cara berdialog yang baik dan benar. Dialog bukan berdebat. Watak khas dari dialog ialah kelapangan hati untuk menerima perbedaan dan tidak memaksakan kehendak. Dalam terminologi Pancasila, kita menyebutnya musyawarah. Perdebatan, seperti debat calon presiden, mencari argumentasi yang paling unggul. Perlu digaris bawahi, dialog lebih pas digunakan untuk menggali wacana, bukan mengambil keputusan praktis. Tidak banyak orang yang menganggap harmonisasi dalam dialog ini adalah kegiatan yang layak diseriusi. Dialog ini tidak mendatangkan keuntungan pragmatis. Kebutuhan dan minat setiap individu dalam memahami agama lain bisa jadi berbeda-beda. Dulu  ketika  saya  masih kecil, saya  mengira kalau umat Hindu dan Budha itu menyembah berhala. Tetapi pemikiran saya itu berubah  setelah saya langsung bertanya dan berdialog kepada umat Hindu dan Budha. Saya jadi paham bahwa dengan mempelajari agama lain dan bertanya kepada orang yang tepat, kita akan  semakin rendah hati menemukan nilai kebenaran yang kita yakini juga dimiliki kelompok lain. Saya juga menemukan ajaran Budha yang indah, jika kamu menghina agama orang lain, kamu menghina agamamu sendiri. Sebab agama tak pernah mengajarkan energi kemarahan  dan  kejahatan. Ini perlu direnungkan oleh seluruh umat beragama. Kegiatan seperti ini sangat positif, dimana tidak ada ketakutan atapun prasangka antar umat beragama dalam kegiatan ini. Seluruh  peserta merasa damai dan saling mengerti.  Ini  adalah gambaran kecil bagaimana seharusnya perdamaian  tercipta di  Indonesia.  Para pemuda yang telah mengikuti kegiatan ini dapat menyalurkan atau menyebarkan  perdamaian di tempat mereka masing-masing.  Semakin  banyak yang mengerti akan hal ini, maka semakin mudah untuk menyuarakan perdamaian di Indonesia. Bukan konflik agama yang terjadi di Indonesia namun konflik antar-umat beragama. Agama tidak salah.

SURAT LAMARAN KERJA

Sukabumi . 17 Februari 2017 Perihal : Lamaran Kerja Lam     : - KepadaYth : Bapak/ibu Bagian Personalia/HRD PT.  ANGIN RI...