Tuesday, April 4, 2017

Apa Itu Gay (HOMOSEKSUAL)

Sudah hampir satu tahun lama saya ikut gabung di program penggulangan Hiv dan Aids. Banyak sekali pengalaman yang saya dapat dari program tersebut. Kebetulan saya ditugaskan untuk menjangkau Kelompok gay atau yang lebih tepatnya Laki-laki seks laki-laki (LSL), awalnya saya ragu bisa bergabung dengan mereka dan saya belum mengatuhui komunitas itu seperti apa?, dan juga masih terpatri dalam benak saya, bahwa gay adalah perilaku seks menyimpang dan salah satu penyebab kenapa kaum Nabi Luth dibinisakan dimuka bumi ini oleh Tuhan yang Maha Esa.
Berjalnnya waktu, sayapun bisa berkomunikasi dengan kelompok yang terbilang eksklusif ini, dan saya bisa belajar banyak dari kelomok tersebut, pertama tentang pandangan yang salama ini mengakar, bahwa gay adalah salah penyakit seksual yang menyimpang yang bisa diobati atau ditrapi. Namun sayang asumsi yang selama ini melekat dalam benak saya, itu salah. Setelah berinteraksi langsung dengan mereka, saya gali sebanyak -banyaknya infirmasi dari mereka. Mengapa kalian menjadi seorang mohoseksual (GAY)? Apakah kalian korban pelecehan? Apakah kalian terbawa arus lingkungan? Atau karena kalian salah asuh?.
Itu yang sering saya tanyakan kepada mereka saat saya kelapangan, disela-sela saya memberi edukasi tentang bahaya HIV dan Aids.
Tidak ada jawaban yang pasti yang dilontarkan oleh kawan-kawan yang saya temui dilapangan, dalam menentukan penyebab menjadi homoseksual. Namun pada umumnya percaya bahwa orientasi seksual seseorang ditentukan dari kombinasi berbagai faktor, antara lain lingkungan, budaya, emosional, hormonal, dan biologis. Maka tiap orang pasti dipengaruhi oleh latar belakang yang berbeda.
Namun, ada sebagian dampingan saya berpendapat, ”Saya menjadi gay tidak tahu faktornya ka, waktu itu saya lulus SMP dan entah kenapa saya lebih tertarik pada laki-laki dari pada perempuan, padahal ka waktu itu,factor lingkungan sangat tidak mungkin, karena saya tinggal dikeluarga dan lingkungan yang religius, tapi entah kenapa perasaan saya suka sama laki-laki semakin menggebu-gebu waktu saya kalas 2 SMA”. Ungkapnya dengan lirih.
Memang tidak mudah untuk meneliti mengapa seseorang bisa menjadi Homoseksual, factor dampingan saya tadi, menunjukkan kemungkinan bahwa homoseksual bisa jadi disebabkan oleh kelebihan hormon androgen, saat janin masih dalam tahap pertumbuhan.
Di sisi lain, ada anggapan bahwa homosekslllal adalah perilaku menyimpang. Namun faktanya, The American Psychiatric Association (APA) dan World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa" homoseksualitas tidak termasuk daftar penyakit psikologis. Begitu juga Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa Edisi II (PPDGJ II) yang diterbitkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1983, menyebutkan bahwa orientasi seksual bukanlah suatu gangguan.
Meski demikian, homoseksual tidak lepas dari masalah dalam interaksi sosial karena adanya prasangka, stigma, dan diskriminasi, sehingga tidak jarang kaum homoseksual memilih untuk menyembunyikannya. Sehingga kami dari sangat sukar untuk menditeksiny

diskotomi Ilmu umum dan ilmu Agama

Tadi saya baca stastus salah satu sahabat saya, waktu di Pondok dulu. "Gak perlu malu Gaptek (GAGAP TEKNOLOGI), Malulah kamu gagap ilmu agama.
Soalnya yg dibawa ke akhirat itu Iilmu agama, bukan Ilmu teknologi" ungkapnya.
Mungkin status tersebut dianggap baik, bahkan diamini oleh sabagian besar sahabat saya, dalam kolom komentarnya. Namun tidak menurut saya, karena menurut saya, semua ilmu akan membawa dampak positif kepada orang lain jika ilmu itu dimanfaatkan dengan baik, bahkan akan sampai keakhirat kelak. Tak terkecuali ilmu teknologi tadi.
Menurut saya salah satu penyebab kemunduran peradaban umat, khususnya umat Islam adalah adanya pemisahan (dikotomi) antara ilmu agama dengan ilmu umum, padahal jika dikaji secara historis dari sejarah peradaban Islam, ilmuwan-ilmuwan muslim zaman dulu di samping ahli pada bidang ilmu pengetahuan umum, juga ahli ilmu agama.
Ajaran Islam tidak pernah melakukan dikotomi antar ilmu satu dengan yang lain. Karena dalam pandangan Islam, ilmu agama dan umum sama saja berasal dari Allah. Islam juga menganjurkan umatnya bersungguh-sungguh mempelajari setiap ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan Alquran merupakan sumber dan rujukan utama, ajaran-Nya memuat semua inti ilmu pengetahuan, baik yang menyangkut ilmu umum maupun ilmu agama.
Pandangan seperti itu, sampai saat ini masih berkembang di tengah-tengah masyakat kita. mereka menggap ilmu agama lebih penting sehingga menapikan ilmu-ilmu yang lain, begitu juga sebaliknya ada sebagian masyarakat kita, berpendangan ilmu umum lebih penting, sehingga menapikan ilmu agama.
Menurut saya, pemisah kedua ilmu tersebut awalnya hanya sekedar spesifikasi, agar terjadi penggalian ilmu secara mendalam yang profesional dan mampu mengaktualisasikan untuk kemajuan peradaban, hanya saja belakangan telah terjadi stigma (anggapan) yang sangat jauh, sehingga timbul kesan ilmu agama hanya mengarah pada pembentukan spiritual saja dan tidak menganggap menyentuh pergaulan sosial sehingga menjadi pemicu kemunduran peradaban Islam

Ceramah Zakir Naik Bembelah Bangsa

Berapa hari ini sosial media diisi oleh cerahmanya Zakir Naik di indonesia, bahkan banyak yang membagikan cuplikan isi ceramah tersebut..
Yang tidak kalah hebohnya pernyataan Zakir Naik sambil mengangkat surat Al Maidah dalam kontek Pilkada, maka jelas semakin membingungkan umat. Terutama bagi orang yang memiliki pemahaman radikal akan lebih cenderung makin menggaungkan dan mendorong tindakan kekerasan.
Isi ceramah Zakir Naik mengundang pro-kontra di tengah masyarakat. Terutama yang berkaitan dengan toleransi antarumat beragama. Pasalnya, soal pembangunan rumah ibadah di Indonesia seperti dipandang “minyak dan air” dalam gelas yang sama, terpisah. Nggak bisa nyatu.
Memahami agama secara kaffah secara keseluruhan, komprehensif di sini sangat penting sekali.
Zakir Naik sayogyanya harus paham pepatah di negeri ini, lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya. Satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain. Setiap negeri atau bangsa berlainan adat kebiasaannya. Di Indonesia, agama adalah perekat bangsa. Bukan alat pemecah bangsa.

Pandangan Ulama Salaf dalam Menghakim Kafir dan Munafiq

Akhir-akhir ini banyak mencuat tuduhan kafir, syirik dan munafik pada seseorang yang sama-sama muslim. Saya dulu sempat mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren, dari mulai SD sampai Perguruan Tinggi, dan semua Pondok Pesantren yg saya jajaki dalam matedo belajarnya Salafi, sayapun sempat wara wiri untuk pasanaran (Pesantren Kilat) keberbagai pondok yg ada di Jawa Barat. Disana saya belajar banyak mengenai ilmu agama, Ya meskipun saya belum bisa mengamalkan apa yg saya dapat di Pondok secara menyeluruh.
Meskipun, banyak guru dan sahabat waktu itu, yang berbeda pendapat, namun tidak sedikitpun saya pernah mendengar guru-guru saya mudah menuduh kafir, munafiq dan Syirik ke pada sesama muslim, jika mereka masih menggap dan mengakui dirinya seorang muslim. Namun, entah kenapa saat ini begitu mudah saya dengar dan baca orang menuduh kafir, munafiq kepada sesamanya.
Dua bulan yg lalu, saya diskusi dengan sahabat dari Muhammadiyah, dia begitu mengagumi sosok Buya Hamka kata sahabat saya "
Buya Hamka diminta menshalati jenazah Bung Karno. Sebagian pihak mencegah Buya Hamka dengan alasan Bung Karno itu Munafik dan Allah telah melarang Rasul menshalati jezanah orang Munafik. Buya Hamka menjawab kalem, "Rasulullah diberitahu sesiapa yang Munafik itu oleh Allah, lah saya gak terima wahyu dari Allah apakah Bung Karno ini benar Munafik atau bukan." Maka Buya Hamka pun tetap menshalati jenazah Presiden pertama dan Proklamator Bangsa Indonesia".
Begitulah, berhati-hatinya para ulama salaf menilai status keimanan orang lain. Apa yang tampak secara lahiriah bahwa mereka itu shalat, menikah secara Islam, berpuasa Ramadan, maka cukup mereka dihukumi secara lahiriah sebagai Muslim, dimana berlaku hak dan kewajiban sebagai sesama Muslim, seperti berta'ziyah, menshalatkan dan menguburkan mereka. Masalah hati mereka, apakah ibadah mereka benar-benar karena Allah ta'ala itu hanya Allah yang tahu.
Saya teringatpula, waktu itu pasaran kitabnya Bidayah al-Hidayah. Guru saya di Pon-Pes Alfadiilah Cibadak memberi gambaran yg sangat lugas apa yg di sampaikan oleh Imam Al-Ghozali dalam kita tersebut. "Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : 'mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?' Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggung jawabannya oleh Allah SWT)".
Ya maskipun pun guru waktu itu, masih normatif dalam membedah makna ahlul kitab, tapi setidaknya beliau dalam menjabarkan sangat berhati hati mengatakan seseorang kafir dan munafiq.
Mungkin itu shear pengetahuan saya, saya sadari saya juga belum bisa mengamalkan, apa yg saya dapatkan waktu di pondok, tapi setidaknya saya mencoba ingin memahami konteks sosial, karena masalah ubuddiyah itu uran saya dan Tuhan.. Terimaksih. Hehehhe

Bias Gender

Sisi positif dari Sinetron Dunia Terbalik..!!
Banyak mindset yang berkeliaran di muka bumi ini yang menganggap wanita itu makhluk yang emosional, mudah menyerah, pasif, subjektif, mudah terpengaruh dan lemah fisiknya. Sementara laki-laki dikisahkan bahwa dirinya sebagai makhluk yang rasional, logis, mandiri, agresif, kompetitif, objektif, aktif dan memiliki fisik yang kuat. Mindset inilah yang membuat perempuan seringkali dieksploitasi dan mendapatkan kekerasan dari para kaum lelaki.
Di Indonesia bahkan lebih parah. Masih banyak mindset yang beranggapan bahwa wanita adalah makhluk yang mengurusi masalah-masalah housewivezation seperti masalah dapur, kasur dan sumur. Budaya patriarki yang masih melekat di kalangan masyarakat Indonesia membuat perempuan seperti diasingkan. Akibat citra fisik yang dimiliki, perempuan dicitrakan sebagai the second class, makhluk yang tidak penting (subordinate), sehingga selalu dipinggirkan (marginalization).
Bersambung

Sisi Positif dari sinetron dunia terbalik

Sisi Positif Sinetron Dunia Terbalik Part II.
Ada sebuah manfaat yang sangat besar dengan berpindahnya suatu rumah produksi yang selama sepuluh tahun menggaungi suatu stasiun TV swasta dengan pemiliknya yang ngebet jadi presiden. Anak-anak dengan motor besar yang merong-rong setiap selepas Magrib sudah berpindah ke stasiun TV yang lain dan digantikan dengan tayangan yang menurut saya lebih mendidik ketimbang tayangan-tayangan sebelumnya.
Adalah sinetron Dunia Terbalik. Sinetron ini pun berhasil menjadi anti tesis di antara banyaknya sinetron bertema cinta dan tak sarat akan pesan. Sinetron yang menghadirkan cerita sederhana tentang suami istri yang bertukar peran, sang istri yang banting tulang mencari nafkah dan sang suami yang asik ngerumpi sembari memilah-milah sayuran di grobak.
Sang istri yang bekerja pun tak serta-merta bekerja menjadi buruh cuci atau pembantu domestik, lebih dari itu, mereka berkerja menjadi TKW di luar sana dan sangat sulit dijangkau oleh pengawasan orang-orang tersayangnya.
Bersambung sudah mulai Film nya.

Apa itu NGO

Suatu kali seorang teman menuding kepedulian saya terhadap isu yang saya garap, seperti HIV-Aids, Kebebasan Bergama dan Berkeyakina (KBB) dan Hak asasi Manusia (HAM). hanya karena kebetulan saya bekerja untuk organisasi kemanusiaan yang berkecimpung dalam pengembangan dan penanganan kasus-kasus diatas. Bahkan di pelbagai status Facebooknya, ia menyindir saya yang dianggapnya hanya memiliki kepedulian palsu kepada kaum yang terpinggirkan. Menjual kebebasaan dan ODHA untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri. “You just care for the money, not for the poor it self,” demikian pernyataannya kepada saya beberapa waktu yang lalu.
Tidak dipungkiri banyak pekerja sosial, bahkan beberapa di antaranya saya tahu secara dekat, hanya bekerja karena digerakkan oleh uang. Bahkan beberapa teman saya yang lain, yang kebetulan baru saja lulus dari perguruan tinggi, berhasrat sekali untuk bekerja di NGO karena alasan gaji yang ia kira besar. Padahal seharusnya uang ataupun gaji, tidak boleh menjadi motivasi untuk menjadi abdi masyarakat yang tertindas dan terpinggirkan.
Sejujurnya saya cukup terpukul ketika motivasi saya dalam mencoba ikut membela orang-orang lemah diserang sebagai kepalsuan oleh teman saya itu. Dan lebih dari itu, saya sebenarnya sedih jika ada anak-anak muda yang ingin bekerja di NGO karena mengira upah yang akan ia terima besar.
Memang saya tidak menyangkal beberapa NGO asing memberikan jumlah gaji dan benefits yang cukup besar. Mungkin kawan-kawan bisa googling NGO mana saja yang memberikan gaji yang besar. Di berbagai sumberpun banyak informasi-informasi terkait jumlah gaji dan benefits yang diterima seorang pekerja sosial di NGO. Namun tidak untuk NGO di daerah seperti saya.

Bagaimana penghasilan yang saya terima di organisasi tempat saya mengabdi sekarang? Tentu saja itu adalah rahasia yang tidak boleh dipublikasikan secara luas. Selain menyalahi kode etik organisasi, tentu saja itu pun akan membuat saya dikenakan sanksi yang serius oleh pihak manajemen.
 Namun lebih dari soal penghasilan, keindahan bekerja di NGO ataupun LSM sebenarnya bukan di tataran gaji. Beberapa teman saya yang bekerja di NGO besar pun banyak yang hijrah ke perusahaan profit meski gaji pokok yang mereka terima jauh lebih kecil, tetapi di perusahaan profit itu ia mendapatkan pelbagai benefit yang jauh lebih besar dari yang ia terima di NGO itu.

Sesungguhnya ada kepuasan yang jauh lebih besar daripada menerima sejumlah uang yang ditransferkan setiap akhir bulan, yaitu melakukan aksi nyata di tengah masyarakat yang sangat membutuhkan pertolongan. Apalagi ketika yang dikerjakan ternyata bisa membawa perubahan di tengah kaum marjinal baik secara signifikan maupun secara bertahap, maka tidak ada harta yang mampu menandingi kepuasan tersebut. Dan alasan saya untuk tetap mengabdi di NGO, dan bukannya di perusahan sebagaimana yang dilakukan oleh teman-teman saya yang lain, adalah karena melihat kontribusi yang jauh lebih nyata yang bisa saya berikan bagi negeri tercinta ini.

Saya tidak mengatakan bahwa teman-teman saya yang sibuk kerja di perusahan tidak memberikan kontribusi yang nyata, tetapi saya menyangsikan efektifitas hidup jika saya berada di sebuah perusahan. Terlebih saya adalah tipe tukang protes yang gampang resah dengan pelbagai hal yang tidak ideal, dan sayangnya saya sering melihat yang tidak ideal dan hanya penuh retorika palsu di perusahan-perusahan . Sehingga berada di tengah masyarakat yang terpinggirkan jauh lebih membahagiakan bagi saya ketimbang berada di atas kursi empuk.

SURAT LAMARAN KERJA

Sukabumi . 17 Februari 2017 Perihal : Lamaran Kerja Lam     : - KepadaYth : Bapak/ibu Bagian Personalia/HRD PT.  ANGIN RI...