Monday, December 26, 2016

Pengaruh Globalisasi Terhadap Pendidikan Indonesia

PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP PENDIDIKAN INDONESIA
MATA  KULIAH
SOSIOLOGI PENDIDIKAN
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK IV
1.     Asri Pulungan             : NPM. 072115097
                            2.  Vera Kusmayanti         : NPM. 072115123
                            3.  Nia Rachmania S         : NPM. 072115074
    
Program Pascasarjana
Universitas Pakuan
Kejujuran, Integritas, Kreativitas, Kualitas, Harmoni
Jln. Pakuan Bogor Tlp./Fax. (0251) 8320 123
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkah dan anugerah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini, dengan judul “Pendidikan dan Globalisasi”. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Pendidikan.
Penyusun mengucapkan terimakasih kepda semua pihak yang telah membantu secara moral maupun materi selama penyusunan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan serta masih jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi perbaikan makalah ini.
Semoga makalah ini senantiasa bermanfaat bagi para pembaca.



                       
                                                                                                            Bogor,  Oktober 2015

                                                           

                                                                                                            Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................................ ii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ................................................................................................................1-2
1.2  Rumusan Masalah ...........................................................................................................2-3
1.3  Tujuan .................................................................................................................................3

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan
2.2 Pengertian Keterampilan Hidup
2.3 Jenis- jenis Keterampilan Hidup
2.4 Hubungan Pendidikan dan Keeterampilan

BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................
3.2 Saran ..................................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pendidikan Nasional kita berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar RI tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan zaman. Maka Pendidikan Nasional kita diharapkan sebagai cahaya penerang yang berusaha menuntun manusia dalam menentukan arah, tujuan dan makna kehidupan ini. Manusia sangat membutuhkan pendidikan melalui proses penyadaran yang berusaha menggali dan mengembangkan potensi dirinya. Proses yang dilakukan ini tidak hanya sekedar untuk mempersiapkan manusia agar dapat menggali, menemukan, menempa potensi yang dimiliki, namun juga untuk mengembangkannya.
                 Dalam mencapai tujuan pendidikan tersebut banyak mengalami tantangan baik yang berasal dari dalam (sistem pendidikan) maupun dari luar salah satunya adalah globalisasi. Globalisasi mempengaruhi hampir disemua aspek kehidupan yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek pendidikan yang banyak diterima, diucapkan di dunia pendidikan. Dilihat dari kepentingan nasional, globalisasi pendidikan itu lebih banyak ruginya dari pada untungnya. Sebab jika Indonesia menerima globalisasi pendidikan, dapat dipastikan akan mengakibatkan dampak yang sangat luas dalam pelaksanaan pendidikan. Dalam berbagai hal pendidikan nasional kita masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di Negara-negara maju.
Walaupun demikian pemerintah kita tidak tinggal diam, terlebih pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab pemerintah guna terus mengadakan perubahan.
Perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan. Setiap perubahan akan diimbangi oleh perubahan lainnya. Perubahan dapat terjadi ketika ada dorongan utama dari luar dirinya, atau perubahan itu terjadi dari luar dirinya karena makna kehidupan individu dan sifat masyarakat diberi definisi baru. Dengan pendidikan diharapkan sesorang dapat memperoleh pengetahuan yang dapat mencerahkan
meskipun, istilah globalisasi telah begitu terkenal, dalam banyak hal awalnya hampir tidak ada perdebatan ilmiah dan kritis terhadapnya, kecuali doktrin.
Gerakan globalisasi bila ditelusuri telah tumbuh dan mulai ada sekitar tahun1000 dan 1500 M. Saat itu ditandai dengan adanya interaksi dalam hubungan antar bangsa di dunia, mulai dari para pedagang Tiongkok dan India baik melalui jalan darat       (seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk berdagang. Kaum pedagang ini selain berdagang, mereka juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, abjad (pendidikan), arsitek (seni), nilai-nilai sosial dan budaya yang mereka miliki.
                Kehadiran globalisasi tentunya berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan suatu Negara termasuk Indonesia. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan tersebut di atas akan berpengaruh pula bagi dunia pendidikan di Indonesia. Yang menjadi perhatian kita dalam hal ini adalah tentang realitas globalisasi dan bagaimana respon dunia pendidikan kita terhadapnya, dan bagaimana kita menyiapkan diri untuk menghadapinya, agar dapat mengambil manfat dari arus globalisasi tersebut.


B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, perumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah :
1. Apa artinya globalisasi dan pendidikan bagi Indonesia ?
2. Apakah dampak globalisasi dalam pendidikan di Indonesia ?
3. Bagaimana model pendidikan di masa depan ?






C.Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Untuk mengetahui arti globalisasi dan pendidikan bagi Indonesia.
2. Untuk mengetahui dampak globalisasi dalam pendidikan di Indonesia.
3. Untuk mengetahui bagaimana model pendidikan di masa depan.























BAB II
PEMBAHASAN


Pada era globalisasi ini, kemandirian sangat mutlak diperlukan dalam menentukan arah perjalanan sebuah negara. Dalam kaitan ini, Indonesia harus mereformasi pendidikan yang hingga hari ini belum mampu membangkitkan bangsa Indonesia dari ketertinggalannya dari bangsa-bangsa lain. Bila bangsa Indonesia tidak mengantisipasi faktor pendidikan di era globalisasi ini, akan menjadi ancaman yang mengerikan berupa runtuhnya tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam arti luas.
                Fenomena globalisasi, yang telah mengubah sedemikian rupa pola perdagangan dunia, informasi dan komunikasi, serta hubungan perekonomian di akhir abad kedua puluh, membawa pengaruh perubahan yang sama di bidang pendidikan di awal abad kedua puluh satu.Pilihan pendidikan saat ini, sudah tidak lagi tersekat pada batasan-batasan teritorial sebuah negara.
   Perubahan-perubahan sistem pembelajaran seperti transnational education, internet based learning, distance learning, kampus-kampus jarak jauh (offshore campus), franchise institution, telah berkembang sedemikian rupa pesatnya di berbagai negara. Hal ini memberi kesempatan kepada pelajar, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya untuk memilih lembaga pendidikan dan atau sistem pembelajaran yang diinginkannya.
               Persaingan global pun sangat terbuka bagi pelajar mahasiswa yang berprestasi dan cemerlanga, karena di era global ini banyak negara yang menjadikan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi sebagai salah satu komoditi ekspor. Sepanjang sejarah kemanusiaan baru di era inilah masyarakat pendidikan, pelajar, mahasiwa, pengajar, dan civitas akademika lainnya mempunyai kesempatan untuk masuk dalam apa yang disebut sebagai pasar dunia atau global market.
Bagi para pendidik dan pimpinan lembaga pendidikan di Indonesia, era ini tentu saja memberikan banyak kesempatan sekaligus sebagai sebuah ancaman, atau setidaknya tantangan atau bahkan era ini merupakan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk bangkit menyejajarkan dirinya dengan negara-negara lain di dunia.
Ancaman yang sangat mengerikan bila bangsa Indonesia tidak mengantisipasi faktor pendidikan di era globalisasi ini adalah runtuhnya tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam arti luas. Sumber daya manusia yang dimiliki tidak mampu bersaing dalam berbagai sektor kehidupan membuat Indonesia semakin terdesak mundur dan kalah dalam persaingan menata kehidupan sosial, ekonomi, politik, pertahanan, dan lainnya.
                 Beberapa tahun belakangan ini banyak sekolah di Indonesia melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Dalam hal ini terlihat dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahas Inggris, bahasa Mandarin dan bahasa Jepang sebagai mata pelajaran wajib di sekolah, yang dikenal dengan billingual school. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta membuka program kelas internasional/ standart internasional.      
                 Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja yang berkualitas, dengan harapan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan diterapkannya perdagangan bebas, mau tidak mau dunia pendidikan Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri. Seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan hendaknya selaras dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Dengan melihat kenyataan ini, untuk dapat menikmati pendidikan dengan kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Hal ini merupakan salah satu pengaruh globalisasi pendidikan, sebagai contoh : Untuk dapat menikmati pendidikan pada program kelas Internasional di suatu sekolah diperlukan dana yang tidak sedikit, dan ini hanya dapat dinikmati golongan kelas atas yang mapan. Dengan kata lain yang maju semakin maju, dan golongan yang terpinggirkan semakin terpinggirkan dan tenggelam dalam arus globalisasi yang semakin kencang yang akan menyeret mereka dalam jurang kemiskinan.
                  
                
                Kemiskinan merupakan masalah utama yang ditimbulkan globalisasi, globalisasi membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Kesenjangan ini dapat memicu kecemburuan yang berpotensi menjadi konflok social. Peningkatan kualitas pendidikan yang sudah dicapai akan sia-sia jika ada gejolak social dalam masyarakat, ini terjadi akibat adanya kesenjangan social akibat kemiskinan dan ketidakadilan.
                 Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah antisipasi untuk menyiapkan, menemukan, memperbaiki dan menahan gejolak tersebut ditekan seminim mungkin agar tidak terjadi. Dilihat dari kepentingan nasional, globalisasi pendidikan itu lebih banyak ruginya dari pada untungnya. Sebab jika Indonesia menerima globalisasi pendidikan, dapat dipastikan akan mengakibatkan dampak yang sangat luas dalam pelaksanaan pendidikan.
                  Dalam berbagai hal pendidikan nasional kita masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di Negara-negara maju. Walaupun demikian pemerintah kita tidak tinggal diam, terlebih pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab pemerintah guna terus mengadakan perubahan. Langkah-langkah pmerintah yang telah diambil, antara lain adanya peningkatan mutu dan kualitas kelulusan sekolah, peningkatan kualitas tenaga kependiikannya dengan adanya sertifikasi guru.
                    Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi dewasa ini telah banyak mengubah budaya dan peradaban bangsa Indonesia dengan segala dampak positip dan negatifnya. Kalau kita perhatikan pada tahun 90-an,
1. Masih banyak gedung bioskop baik di kota maupun dipelosok desa dan banyak peminatnya, serta banyak orang hajatan yang memanfaatkan hiburan baik layar tancap maupun video,
2. Wartel masih sangat laku dimana-mana sampai banyak sekali orang yang berminat buka wartel dan berebut yang membuat telkom jadi bingung serta membuat suatu peraturan yang dijadikan syarat untuk mendirikan wartel,
3. Telepon kabel/rumah banyak sekali peminatnya dan telkom kerepotan untuk melayani masyarakat
4. Di kantor-kantor jarang ada komputer, karena komputer masih menjadi barang yang mahal
5. Di Perguruan Tinggi dan sekolah, belajar dengan menggunakan OHP sudah dianggap kere
                  Coba bandingkan dengan apa yang terjadi sekarang (tahun 2010), tentu sebaliknya. Teknologi berkembang sangat pesat, pemerintah juga jadi kerepotan dan akhirnya mengubah kurikulum pendidikan di Indonesia disesuaikan dengan tuntutan era globalisasi.
1. Dampak positif globalisasi pendidikan adalah sarana dan prasaran pendidikan seperti alat sekolah, alat peraga, pakaian, komputer beserta perangkat lunaknya.
2. Dampak negative globalisasi pendidikan adalah dengan murahnya harga barang kebutuhan pendidikan tentu kretifitas anak-anak indonesia akan menurun, lebih baik membeli murah dari pada membuat tapi mahal.
                    Bagaimana pendidikan masa depan, kalau kita perhatikan di era globalisasi yang dibutuhkan adalah bagaimana diri kita dapat diterima keberadaannya di belahan dunia manapun, dengan bekal sertifikat Nasional apakah cukup tentunya untuk menghadapi era globalisasi kita membutuhkan sertifikasi internasional sebagai pengakuan atas eksistensi kita di level internasional, sehingga kita dapat berselancar ke negara manapun dengan sertifikat internasional yang kita miliki.
mungkin ke depan, peserta didik lebih memilih Ujian Internasional yang Ijazahnya dapat dibanggakan dan dapat digunakan untuk melanjutkan studi ke luar negerti dan mendapat pengakuan secara internasional.
masalahnya adalah :
1. Apakah sekolah siap menyelenggarakan pendidikan bertaraf  Internasional untuk mendapat Ijazah Internasional ?
2. Apakah Guru sudah kompeten dalam menyelenggarakan pendidikan ?
Bagaimana kalau tidak siap?

                   Globalisasi seperti gelombang yang akan menerjang, tidak ada kompromi, kalo kita tidak siap maka kita akan diterjang, kalo kita tidak mampu maka kita akan menjadi orang tak berguna dan kita hanya akan jadi penonton saja.
Apa yang akan terjadi?
1. Desakan dari orang tua yang menuntut sekolah menyelenggarakan pendidikan bertaraf internasional
2. Desakan dari siswa untuk bisa ikut ujian sertifikasi internasional
Bagaimana jika sekolah tidak mampu memenuhi harapan itu?
sekolah akan ditinggalkan oleh siswa, dan tidak ada lagi yang mau sekolah di sekolah konvensional, maka akan bermunculan :
Home schooling, yang melayani siswa memenuhi harapan siswa dan orang tua karena tuntutan global, virtual school dan virtual university

Bagaimana mempertahankan eksistensi sekolah?
agar sekolah tetap eksis, maka sekolah harus:
1. Meningkatkan mutu SDM terutama Guru dalam penguasaan Bahasa Inggris dan Bahasa Asing lainnya
2. Peningkatan Mutu Guru dalam penguasaan teknologi Informasi dan Komunikasi
3. Peningkatan Mutu Managemen sekolah
4. Peningkatan Mutu sarana dan Prasarana
5. Sertifikasi Internasional untuk guru
                   Persaingan untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi, sehingga dapat masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat membutuhkan kombinasi antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan keterampilan daya cipta yang tinggi. Salah satu kuncinya adalah globalisasi pendidikan yang dipadukan dengan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Selain itu hendaknya peningkatan kualitas pendidikan hendaknya selaras dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat menikmati pendidikan dengan kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar. Tentu saja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi pendidikan belum dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Sebagai contoh untuk dapat menikmati program kelas Internasional di perguruan tinggi terkemuka di tanah air diperlukan dana lebih dari 50 juta. Alhasil hal tersebut hanya dapat dinikmati golongan kelas atas yang mapan. Dengan kata lain yang maju semakin maju, dan golongan yang terpinggirkan akan semakin terpinggirkan dan tenggelam dalam arus globalisasi yang semakin kencang yang dapat menyeret mereka dalam jurang kemiskinan.
                     Masyarakat kelas atas menyekolahkan anaknya di sekolah – sekolah mewah di saat masyarakat golongan ekonomi lemah harus bersusah payah bahkan untuk sekedar menyekolahkan anak mereka di sekolah biasa. Ketimpangan ini dapat memicu kecemburuan yang berpotensi menjadi konflik sosial. Peningkatan kualitas pendidikan yang sudah tercapai akan sia-sia jika gejolak sosial dalam masyarakat akibat ketimpangan karena kemiskinan dan ketidakadilan tidak diredam dari sekarang.
                      Oleh karena itu, hendaknya pemerintah yang dalam hal ini sebagai pengemban amanat rakyat, dapat bergerak cepat menemukan dan memperbaiki celah – celah yang dapat menyulut gejolak tersebut. Salah satunya dengan cara menjadikan pendidikan di Indonesia semakin murah atau bahkan gratis tapi bukan pendidikan yang murahan tanpa kualitas. Hal ini memang sudah dimulai di beberapa daerah di Indonesia yang menyediakan sekolah unggulan berkualitas yang bebas biaya. Namun hal tersebut baru berupa kebijakan regional di daerah tertentu. Alangkah baiknya jika pemerintah pusat menerapkan kebijakan tersebut dalam skala nasional . Untuk dapat mewujudkan hal tersebut pemerintah perlu melakukan pembenahan terutama dalam bidang birokrasi. Korupsi mesti segera diberantas, karena korupsi merupakan salah satu yang menghancurkan bangsa ini. Dengan menekan angka korupsi di Indonesia yang masuk jajaran raksasa korupsi dunia, diharapkan dapat memperbesar alokasi dana untuk pendidikan.
                     
                        Globalisasi dalam dunia pendidikan saat ini memang diperlukan untuk menghadapi tantangan global. Namun demikian globalisasi pendidikan hendaknya tidak meninggalkan masyarakat kita yang masih termasuk golongan lemah agar kemajuan bangsa ini dapat menikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Demikianlah, semoga kita dapat mengarungi arus derasnya gelombang globalisasi dan kita tidak tenggelam dalam gelombang itu.























  BAB III
PENUTUP


3.1Kesimpulan

                   Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa globalisasi dan perubahan merupakan sesuatu yang akan terjadi dan mempengaruhi segala aspek kehidupan termasuk pendidikan. Pendidikan sebagai upaya sadar sekaligus manusiawi, mau tidak mau harus menerima perubahan akibat globalisasi, karena merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan. Namun agar pendidikan sebagai wahana untuk pembentukkan jatidiri bangsa tidak luntur karena globalisasi, maka diperlukan adanya filter agar budaya yang masuk lewat globalisasi tidak merusak pendidikan itu sendiri, sehingga walaupun ada globalisasi warga negara tetap memperoleh pengetahuan yang mencerahkan kehidupannya.
                      Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan semakin kencangnya arus globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan. Banyak sekolah di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas internasional.
                     Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat. Dengan globalisasi pendidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri.


     3.2 Saran
Demikian makalah ini dibuat dengan segala keterbatasannya. Harapannya semoga makalah dari kelompok 4 ini dapat memberikan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya memanfaatkan TIK dalam pembelajaran.
Tentunya kami mengerti akan adanya kekurangan dalam segi penyajian, penyampaian, penjelasan, baik buku acuan dan lain-lain, maka kami sangat terbuka sekali dengan adanya saran dan kritikan yang membangun agar menjadi cermin koreksi untuk perbaikan ke depannya. Atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih.











Thursday, August 20, 2015

Ber-Tuhan ala Einstein

Pada tahun 1940, Albert Einstein menulis sebuah esai menggemparkan berjudul Science and Religion. Esai itu sontak menggoreskan berbagai kontroversi, khususnya di kalangan agamawan dan teolog. Pasalnya, melalui esai itu, Einstein menggusur konsep Tuhan yang telah dibangun oleh para teolog sejak berabad-abad silam. Einstein kemudian menyebut Tuhan ala teolog itu sebagai Tuhan Personal yang tampak begitu kerdil baginya.
Einstein menyikapi konsep Tuhan Personal ala teolog itu secara apatis. Dalam pandangannya, Tuhan Personal itu ternilai terlalu sederhana dan dangkal. Baginya, konsep Tuhan ala para teolog itu justru menggerogoti transendensi Tuhan seiring dilekatkannya simbol-simbol, bentuk (morphe) serta kecenderungan kemanusiaan (pathos) untuk menggapai Yang Transenden itu.
Sebelumnya, pada tahun 1929, setelah membaca dan terpengaruh oleh hipotesa Spinoza dalam karyanya yang berjudul Ethics, Einstein sejatinya telah mulai memaparkan kritikannya pada konsep Tuhan Personal ala para teolog itu.
Saat itu pula, Kardinal O’Connell, Uskup Agung Boston, memberikan respon negatif ofensif dengan meneriakkan kepada Jemmaat New England Catholic Club Amerika agar tak membaca apapun tentang teori relativitas.
Dengan alasan, teori tersebut merupakan sebuah spekulasi kabur yang menghasilkan keraguan universal tentang Tuhan dan ciptaan-Nya. Menurutnya, teori itu tak lain merupakan selubung hantu ateisme yang mengerikan (New York Times, 25 April 1929).
Mendengar pernyataan serta sikap keras yang ditempuh oleh Uskup Agung tersebut, Rabbi Herbert S. Goldstein dari The Institutional Sinagoge di New York bertanya pada Einstein melalui telegram; “Apakah Anda percaya Tuhan?” Einstein pun menjawab; “Saya percaya pada Tuhan-nya Spinoza yang menampakkan diri-Nya dalam harmoni keteraturan atas keseluruhan yang ada.
Bukan sosok Tuhan yang menyibukkan diri-Nya dengan nasib dan tindakan-tindakan manusia”. Dan, membaca jawaban Einstein tersebut Rabbi Goldstein pun menegaskan bahwa tuduhan ateis pada Einstein jelas-jelas tak terbukti.
Adapun setelah esai 1940 yang berisi pemaparan cukup komprehensif tentang kritiknya atas Tuhan-nya teolog dan konsep Tuhan Impersonal-nya itu terbit, ia pun sontak mendapat serangan serempak dari mayoritas teolog –khususnya teolog Yahudi ortodoks- dengan kekuatan dogma kafir dan ateis. Namun, Einstein selalu menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang ateis. Bahkan, ia ternilai memiliki konsep Tuhan yang jauh lebih mentransendensikan-Nya.
Terpengaruh dari Spinoza, setelah menggusur konsep Tuhan Personal-nya para teolog, Einstein menggagas konsep Tuhan Impersonal. Dalam pandangannya, Tuhan merupakan Kecerdasan Tertinggi yang menampakkan dirinya dalam harmoni dan keindahan alam.
Dia tidaklah ber-‘sosok’. Tuhan adalah struktur pengatur kosmis yang impersonal. Baginya, sesuatu yang oleh Injil disebut sebagai aktifitas Ilahi tak lain semacam hukum ketentuan alam. Sedangkan sesuatu yang disebut sebagai kehendak Tuhan tak lain adalah hukum alam.
Tuhan-nya Einstein itu merupakan entitas abstrak sebagaimana diungkapkan Injil; “Janganlah kamu membuat patung berhala atas-Nya atau keserupaan dengan macam-macam benda”. (Eksodus 20:4)
Terlepas dari sederetan kontroversinya, pada dasarnya konsep Tuhan ala Einstein tersebut akan semakin mendewasakan keber-tauhid-an dan keberagamaan manusia. Pasalnya, pertama, konsep Tuhan ala Einstein akan relatif menjaga transendensi Tuhan.
Sebab, konsep tersebut ternilai akan selalu menjauhkan Tuhan dari simbol, bentuk (morphe) maupun kecenderungan kemanusiaan (pathos) yang dapat menggiring Tuhan pada ‘jurang’ imanensi, sebagaimana kerap terjadi pada Tuhan-nya para teolog.
Kedua, konsep agama kosmis yang lahir dari ‘rahim’ Tuhan Impersonal secara tidak langsung akan memacu kedewasaan manusia dalam beragama. Sebab, dalam konsep agama kosmis, rasionalitas dan kebebasan memiliki ruang ekspresi yang lebih leluasa dan terjunjung tinggi.
Dalam agama kosmis, Tuhan bukanlah ‘sosok’ yang selalu mengikat dan menjajah manusia di bawah kehendak-Nya. Sebagaimana ditegaskan Einstein, dalam agama kosmis, Tuhan bukanlah ‘sosok’ yang kehendak-Nya seperti kehendak dalam diri setiap manusia; mutlak bagi setiap diri manusia.
Sehingga, dalam konsep agama kosmis ala Einstein, setiap manusia memiliki ruang kebebasan dan berkehendaknya sendiri. Ketiga, dengan determenisme dan kausalitas ketat yang menjadi konsekuensi logis atas konsep Tuhan Impersonal ala Einstein, maka naluri serta tanggung jawab sosial-ekologis manusia akan terdongkrak.
Sebab, bayang-bayang akan bencana ekologis dan kemanusiaan setidaknya akan memberikan bayangan buruk sekaligus pertimbangan signifikan bagi setiap individu yang hendak mengeksploitasi alam maupun manusia. Terlebih, sebagaimana ditegaskan Einstein, tujuan tertinggi dari ketaatan beragama tak lain adalah keselarasan sempurna dengan alam semesta, termasuk manusia di dalamnya.
Akhirnya, merujuk pada konsep Tuhan ala Einstein, sejatinya ber-Tuhan bukan berarti menafikan eksistensi diri dan menyerahkan seluruh kehendak dan kebebasan kita pada Tuhan secara mutlak. Namun, sebagaimana ditegaskan Einstein, ber-Tuhan sejatinya justru harus ber-‘metamorfosis’ menjadi semangat dan tuntutan untuk selalu berupaya keras melalui pengetahuan rasional secara bebas untuk mencapai hakikat-Nya. Bukan dengan rasa takut-terikat maupun keyakinan yang buta.
Sumber  http://islamlib.com/sains/ber-tuhan-ala-einstein/

Islam Awal Lebih Toleran?

Berbeda dari kaum revisionis radikal seperti Patricia Crone atau Michael Cook yang menolak semua sumber-sumber tradisional Islam dan dari kaum tradisional yang menerima semua sumber-sumber tradisional Islam, Fred Donner dalam membangun argumentasi Islam pada masa awal melakukan seleksi terhadap sumber-sumber tradisional Islam seperti sirah nabawiyah.[1]
Penulis Narratives of Islamic Origins: The Beginnings of Islamic Historical Writing (Darwin Press; 1998) ini mengakui bahwa, sekalipun dalam banyak hal masuk akal, sumber-sumber tradisional Islam seperti sirah nabawiyah tidak dapat sepenuhnya diandalkan karena sumber-sumber tersebut dikompilasi beberapa tahun bahkan beberapa abad setelah periode kehidupan Nabi Muhammad.
Dapat pula diduga beberapa peristiwa pada sumber-sumber tersebut tidak dapat dipercaya dalam menggambarkan peristiwa yang sebenarnya terjadi namun cenderung lebih mendeskripsikan legenda yang dibuat generasi Muslim belakangan untuk memastikan status Muhammad sebagai nabi, membantu membangun preseden bagi ritual, kehidupan sosial atau praktik hukum komunitas Muslim belakangan.
Alasan-alasan tersebut telah menyebabkan beberapa sarjana terutama dari kalangan revisionis radikal menolak seluruh sumber-sumber tradisional tersebut. Bagaimanapun, menurut Donner, pendirian ini terlalu jauh dan sama tidak kritisnya seperti penerimaan kaum tradisionalis terhadap sumber-sumber tradisional.
Dalam buku ini Donner menjadikan Al Quran sebagai sumber utama argumentasi serta tampak mempertimbangkan kisah-kisah yang cukup akurat dan masuk akal dari peristiwa-peristiwa dalam hidup Nabi namun mengesampingkan kisah-kisah yang bias keajaiban, idealisasi yang tidak wajar dan pembenaran yang bersifat relijius.
Pada bab pertama, profesor kajian Timur Dekat di Universitas Chicago ini memaparkan tentang kondisi timur dekat pada masa menjelang munculnya Islam yang mengekplorasi imperium-imperium dari akhir zaman kuno, Arab di antara poros-poros besar kekuasaan serta deskripsi situasi Mekkah dan Madinah
Bab kedua buku ini berjudul Muhammad dan gerakan Kaum Beriman yang membahas biografi Nabi Muhammad dalam tradisi Islam, permasalahan terkait sumber dan karakteristik Gerakan Kaum Beriman Awal.
Ekspansi Komunitas Kaum Beriman menjadi tema di bab ketiga dimana penulis The History of al-Tabari (Vol. 10): The Conquest of Arabia (State University of New York Press; 1993) (terjemahan) ini membahas sumber-sumber sejarah, keadaan komunitas Kaum Beriman pada akhir hidup Nabi Muhammad, suksesi Nabi Muhammad dan Perang Ridda, ciri-ciri ekspansi awal Kaum Beriman, tujuan dan cakupan ekspansi awal, konsolidasi dan lembaga-lembaga era ekspansi awal
Bab keempat membahas mengenai pergulatan kepemimpinan umat yang selanjutnya menguraikan latar belakang perang saudara pertama, jalannya perang saudara pertama, masa di antara perang saudara, perang saudara kedua dan renungan tentang Perang Saudara
Kemunculan Islam menjadi topik utama bab terakhir dimana pada bagian ini Donner menjelaskan restorasi dinasti Umayyad dan kembalinya agenda imperial, redefinisi istilah-istilah kunci, penekanan pada Muhammad dan Al Quran, masalah trinitas, penjelasan praktik ibadat islam, penjelasan kisah islam awal, peleburan identitas politik Arab, kontradiksi perubahan resmi dan perubahan popular.
Penulis The Early Islamic Conquests (Princeton University Press; 1981) ini berpendapat bahwa Islam berawal dari gerakan relijus bersifat ekuminis yang menekankan pada usaha mendapat keselamatan pribadi melalui perilaku yang benar bukan sebagai gerakan sosial, ekonomi, atau bahkan gerakan “nasionalis”.
Perhatian gerakan Kaum Beriman terhadap isu-isu sosial hanyalah sejauh mengenai hal-hal yang terkait dengan konsep kesalehan dan perbuatan baik yang dibutuhkan guna memastikan keselamatan tersebut dimana Islam sebagai agama yang terpisah baru ditegaskan pada masa belakangan
Menurut Donner, Kaum Beriman awal mempunyai kepercayaan dasar berupa keesaan Tuhan, percaya kepada hari akhir, percaya kepada konsep pewahyuan dan konsep kenabian dan percaya pada adanya malaikat, menjalankan shalat, puasa, bersedekah, melakukan perbuatan baik kepada sesama.
Sebuah ide dan praktik yang umum dan wajar di Timur Dekat abad ketujuh. Sejauh mereka meyakini kepercayaan dasar dan melaksanakan praktik-praktik tersebut, Yahudi dan Kristen dapat digolongkan sebagai bagian komunitas Kaum Beriman.
Kaum Beriman mempersepsikan diri mereka sebagai komunitas yang lebih taat pada monoteisme, berkomitmen pada perbuatan baik, yang terpisah dari lingkungan masyarakat sekitarnya baik itu kaum polities ataupun kaum monoteis yang kurang taat dan berdosa.
Namun di sisi lain tidak ada alasan menyatakan Komunitas Orang Beriman sebagai agama terpisah, sebagaimana yang dinyatakan Al Quran Surat 46:9, “Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan”.
Hal ini diperkuat dengan dalil bahwa di dalam Al Quran kata “mukminin” disebut lebih dari 1000 kali dibandingkan kata “muslimun” yang hanya disebut 75 kali dalam Al Quran.
Dasar argumentasi Donner lainnya adalah Piagam Madinah. Piagam Madinah memasukkan kaum Yahudi (dan Kristen) ke dalam komunitas orang-orang beriman, dokumen itu menyebutkan “orang-orang Yahudi dari Banu Awf adalah satu umat (ummatan wahidah) dengan kaum mukmin.
Terkait deskripsi hubungan Muhammad dengan tiga suku Yahudi, Bani Qainuqa’, Nadlir dan Quraidhah, yang bersifat antagonis, penuh konflik hingga mereka diusir dan eksistensi mereka tidak disebut dalam Piagam Madinah, Donner mengajukan beberapa pertanyaan kritis yaitu, apakah dokumen itu ditulis setelah diusirnya ketiga suku tersebut, sehingga penyebutannya menjadi tidak relevan?
Apakah penyebutan suku-suku tersebut tidak ditulis dalam dokumen itu karena mereka sudah tidak ada di Madinah? Ataukah isu konflik antara Nabi dan ketiga suku Yahudi tersebut dibesarkan-besarkan penulis sejarah belakangan?
Setelah Nabi meninggal, karakter komunitas Kaum Beriman ini pun masih berlanjut. Hal ini dapat dilihat dari gelar Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang beriman) bukan Amirul Muslimin (pemimpin orang-orang Islam) bagi para penerus kepemimpinan politik Nabi. Adapun istilah khalifah yang sering disematkan pada pemimpin politik setelah Nabi ternyata tidak didukung oleh adanya penyebutan kata khalifah tersebut dalam bukti-bukti sejarah sebelum abad ketujuh.
Selanjutnya pada masa ekspansi awal Kaum Beriman terdapat bukti sejarah lain yang memperkuat argumentasi Donner diantaranya adalah koin, catatan awal, inskripsi yang ditemukan dengan tahun 685 M hanya menyebutkan bagian pertama syahadat (tiada Tuhan selain Allah) dan tidak mencantumkan “Muhammad adalah utusan Allah”.
Sebuah dokumen tertulis Suryani Timur di Mesopotamia Utara tahun 687 atau 688 M mencatat bahwa Kaum Beriman mengizinkan orang-orang untuk tetap pada keyakinan apapun yang mereka mau. Dalam dokumen tersebut juga dicatat bahwa di antara orang-orang beriman yang terlibat dalam pertempuran terdapat pula orang-orang Kristen.
Surat Patriark Nestorian Isho’yaab III di Iraq kepada salah satu uskupnya pada tahun 647 atau 648 M juga menunjukkan bahwa penguasa baru selain tidak memerangi orang Kristen mereka juga memuji agama Kristen, menghormati pendeta, biara- biara dan orang orang suci Tuhan kita serta memberi hadiah kepada biara-biara dan gereja-geraja.
Ekspansi Kaum Beriman terhenti sementara saat Fitnah Pertama dan Fitnah Kedua melanda. Setelah konflik internal Kaum Beriman selesai, Khalifah Abdul Malik Ibn Marwan mulai dapat mengkonsolidasikan kekuasaannya dan meneruskan ekspansi wilayah secara lebih fokus.
Pada masa Abdul Malik Ibn Marwan inilah terjadi proses pergeseran identitas Kaum Beriman. Tanda-tanda pergeseran identitas itu dapat dilihat setidaknya dari pendefenisian ulang istilah kunci dari Kaum Beriman menjadi Kaum Muslim, pergeseran gelar Amirul Mukminin menjadi Khalifah yang digunakan oleh Abdul Malik Ibn Marwan
Kaum Beriman generasi awal menggunakan istilah muhajirin dan mukminin untuk menyebut diri mereka, istilah muhajirin ditujukan bagi Kaum Beriman yang aktif secara militer dan punya motivasi relijius untuk beremigrasi dari Arabia . Seiring berjalannya waktu, dengan alasan yang belum jelas, istilah muhajirin tidak digunakan lagi.
Penyebab yang dapat diduga adalah karena wilayah yang dikuasai Kaum Beriman semakin luas, setidaknya telah meliputi Arabia, Syiria, Irak, Mesir, sehingga istilah hijrah yang bermakna perpindahan dari masyarakat kafir kepada masyarakat Kaum Beriman tidak lagi relevan.
Satu-satunya istilah yang tersisa dalam Al Quran adalah “muslim”, sebenarnya istilah “muslim’ dapat pula disematkan kepada orang-orang Yahudi dan Kristen namun karena istilah “Yahudi” dan “Kristen” telah mejadi istilah tersendiri untuk orang-orang tersebut, maka tinggal istilah “muslim” yang masih relevan disematkan kepada Kaum Beriman di luar Yahudi dan Kristen.
Sekalipun terdapat pendapat yang menyatakan bahwa gelar “Khalifah” telah digunakan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali namun sebatas dokumen sejarah yang ditemukan dengan tahun sebelum zaman Abdul Malik Ibn Marwan, gelar yang digunakan keempat pemimpin Kaum Beriman tersebut adalah “Amirul Mukminin” bukan “Khalifah”. Gelar “Khalifah” baru ditemukan dalam dokumen-dokumen sejarah pada masa Abdul Malik Ibn Marwan.
Donner berpendapat bahwa gelar “Khalifah” digunakan Abdul Malik Ibn Marwan untuk mempertegas otoritas kekuasaan dinasti Umayyah sebagai penerus Nabi di kalangan Kaum Beriman terutama setelah Perang Saudara Kedua yang menggerus legitimasi dinasti Umayyah. Gelar Khalifah sendiri diperkirakan terinspirasi dari QS 38:26, guna menegaskan status Abdul Malik Ibn Marwan sebagai wakil Tuhan di muka bumi yang dipandu oleh Al Quran.
Contoh lain proses pergeseran identitas Kaum Beriman menurut Donner diantaranya adalah perintah Abdul Malik Ibn Marwan kepada gubernur Irak Hajjaj Ibn Yusuf untuk mempersiapkan teks Al Quran standar lengkap dengan diakritik dan tanda baca dan pencantuman “Muhammad Rasulallah” pada bukti-bukti sejarah yang hanya baru ditemukan pada dokumen-dokumen tertahun 685 M/686M.
Teori Donner ini dapat dijadikan pondasi konstruksi hubungan yang bersifat inklusif antar umat beragama, khususnya antara umat Islam, Kristen dan Yahudi. Dengan menggunakan teori Donner maka semangat untuk mengamalkan ajaran Islam seperti generasi awal dapat diartikan sebagai semangat untuk melaksanakan ajaran Islam yang bersifat ekuminis, inklusif, fokus pada perbuatan baik dan tidak mengeksploitasi perbedaan guna memicu konflik antara umat Islam, Yahudi dan Kristen .
Kelemahan dari teori Donner ini sebenarnya telah diakui penulisnya sendiri. Di halaman 204, Donner mengakui bahwa berdasarkan pengetahuan yang kita dapat sekarang ini, kita hanya dapat berspekulasi mengapa pergeseran identitas Kaum Beriman terjadi.
Mungkin batas yang mengeras, yang berakibat pada pemisahan secara jelas, antara kaum muslim dengan kaum Yahudi dan Kristen adalah reaksi keras kaum Muslim melawan beberapa aspek spesifik seperti keteguhan orang-orang Kristen untuk memeluk doktrin trinitas dan keengganan orang-orang Yahudi untuk mengakui kenabian Muhammad tapi sekali lagi itu hanya spekulasi yang belum dapat dikonfirmasi kepastiannya oleh bukti-bukti sejarah lain.
Secara keseluruhan, bagi para pembaca yang akrab dengan narasi tradisional tentang periode formatif Islam, buku Donner ini dapat mengajak pembaca berpikir kritis tentang persepsi bahwa Islam sebagai agama terpisah telah terbentuk sejak awal dan memberikan perspektif baru tentang periode awal Islam. Sehingga bagi para pembaca, buku ini akan sangat menarik untuk dibaca dan didiskusikan.
[1] Tipologi revisionis radikal, revisionis moderat dan tradisional meminjam tipologi yang dikemukakan Mun’im Sirry dalam Kontroversi Islam Awal (PT Mizan Pustaka, Jakarta, 2015)
Sumber :http://islamlib.com/aksara/buku/islam-awal-lebih-toleran/

SURAT LAMARAN KERJA

Sukabumi . 17 Februari 2017 Perihal : Lamaran Kerja Lam     : - KepadaYth : Bapak/ibu Bagian Personalia/HRD PT.  ANGIN RI...